Nafsu vs Ramadhan

Asssalamua’alaikum. & Peace be upon to all readers.

Selawat dan salam ke atas junjungan Mulia, Nabi Muhammad s.a.w., para sahabat, tabi’-tabi’in, dan semoga Allah melimpahkan rahmat kepada mereka yang tetap teguh di jalan tarbiyah.

In sha’a Allah. Mudah-mudahan 🙂

・ Banff National Park - September 28, 2016 ・.png

Seringkali, bulan Ramadhan dirindukan oleh  kita baik dari hati yang ingin mencari Tuhan atau ingin melakukan  perubahan di dalam dirinya. Kerana di bulan inilah kita bakal melatih dan menundukkan nafsu kita. Nafsu yang tidak dikendalikan, ia akan menunggang kita. Bayangkan saat diri kita dipandu nafsu, perasaannya membuak, tidak mahu tidak, kekuatan dari Allah sahaja yang mampu meneguhkan iman kita saat diuji. Kisah Nabi Yusuf dan isteri Raja Mesir antara kisah yang sangat dekat bila disentuh perihal nafsu ini. Sangat penting untuk kita melatih nafsu agar tidak tertunduk olehnya. Oleh kerana itu, ada baiknya untuk kita dengan secara lebih dekat mengenali kondisi nafsu kita saat ini mahupun tingkatan nafsu yang bakal kita tuju.

Tingkatan nafsu

Uniknya manusia ini adalah jiwanya. Baik dan buruk sesuatu jasad itu bergantung kepada jiwa. Sekiranya ia dalam kendalinya, tentu ia selalu dalam kondisi yang di inginkan, celaka pula jika jiwa berada di luar kendali manusia hingga seringkali tidak sedar dalam keadaan apakah jiwanya itu. Allah telah mengilhamkan jiwa itu ‘fujur’ dan ‘takwa’. Beruntungnya seorang manusia itu jika pandai mengelola jiwanya supaya potensi takwa lebih dominan daripada potensi fujur/dosa. Konflik antara fujur/dosa dan takwa tidak pernah berhenti. Dari dominasi roh dan nafsu itu, jiwa manusia dapat dikategorikan kepada tiga karakter. Karakter itu, sekaligus menunjukkan tingkatan nafsu.

1.Nafsu Ammarah Bissu’ (Jiwa yang selalu menyuruh ke arah kejahatan)

Apabila nafsu lebih dominan daripada roh, yang menguasai jiwanya adalah memenuhi selera kesenangan (syahwat). Kondisi ini akan selalu menyuruh untuk melakukan hal-hal buruk. Jiwa ini berada di tingkatan yang paling rendah. Apabila tidak segera diubati, kecenderungannya akan semakin menjadi dan akan menjerumuskan pemiliknya ke lembah kehinaan. Pada kondisi yang parah, ia akan melakukan perbuatan yang tiada beza dengan binatang. Bahkan akan melakukan perbuatan iblis hingga ia dipanggil syaitan. Na’udzu billahi min dzalik.

2.  Nafsu Lawwamah (Jiwa yang selalu menyesali diri)

Apabila pengaruh kekuatan antara roh dan nafsu seimbang, maka logik fikiran akan banyak berbicara. Akan terjadi konflik dan pergolakan yang keras antara keinginan amal soleh dan kecenderungan maksiat. Apabila ada keinginan amal soleh, pemiliknya akan fikir-fikir dulu. Tarik tali antata dorongan negatif dan positif tiada kesudahan. Jiwanya selalu menginginkan yang lebih baik. Bila melakukan keburukan, ia akan mencacinya. Bila melakukan kebaikan, ia juga akan mencacinya kerana tidak melakukan dengan lebih baik. Jiwa dengan kondisi yang demikian lebih baik dibanding dengan pertama dan inilah yang dimiliki kebanyakan kaum muslimin.

3. Nafsu Mutmai’nnah (Jiwa yang tenang)

Apabila yang dominan adalah dorongan roh dibanding dorongan nafsunya, maka manusia akan berzikir pada setiapa keadaan. Jiwa ini di sebut nafsu mutmai’nnah (jiwa yang tenang). Dirinya sentiasa merasa tenteram dan menikmati dengan amal-amal ketaatan. Ibadah akan terasa sangat ringan. Dirinya akan gelisah bila kesempatan zikirnya terusik. Jiwa dalam kondisi demikian dimiliki para auliar rahman: para nabi, siddiqin, syuhada, dan orang-orang soleh. Moga Allah menganugerahkan kepada kita jiwa yang tenang ini di dunia, sehingga kelak Allah s.w.t. memanggil kita dengan panggilan lembut,

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas
lagi diridlai-Nya. masuklah ke dalam barisan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah
ke dalam surga-Ku.” (al-Fajr: 27-30).

Allah tak pernah mengkehendaki manusia menjadi malaikat. Demikian itu kerana Allah telah mengilhamkan kepada jiwanya dosa dan ketakwaan, sehingga manusia yang baik bukanlah manusia yang tidak pernah berdosa. Manusia adalah pesalah dan pelupa, namun sebaik-baik orang yang yang salah dan alpa adalah yang segera bertaubat.

Yang jelas kita diperintahkan untUk selalu membersihkannya dan mensucikannya. Tadzkiyatun nafs dilakukan dengan membersihkan dan membebaskan jiwa dari sifat-sifat tercela dan menyandanginya dengan sifat-sifat terpuji. Bagaimana caranya? Menjalankan tilawah dan tadabbur al-Qur’an, tafakkur alam, thalabul ilmi, solat wajib di masjid, solat nafilah, puasa, dakwah, bergaul dengan orang solih dan sebagainya.

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwanya. Dan sesungguhnya
merugilah orang yang mengotorinya.” (asy-Syams: 9-10)

tumblr_mqb7eyAQiF1rmlh13o1_1280

Advertisements

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s